jump to navigation

Anda sudah menginfaqkan…. October 30, 2008

Posted by maskokilima in Sekolah.
Tags: , , , , ,
trackback

Ini sebenarnya merupakan strategi pemasaran sekaligus manajemen.  Yang sangat bagus dan juga menyentuh kepekaan perasaan customer. Saya membayangkan, bahwa konsumen setelah berbelanja dan meninggalkan kasir tidak bersungut-sungut karena telah mengeluarkan uang lebih daripada nilai barang yang dibelanjakan malahan merasa bersukur bahwa mereka dipaksa untuk berinfaq. Sangat berbeda dengan tempat lain yang menganti nilai uang yang hilang karena pembulatan dengan permen atau bahkan malah menjadikan hal itu sebagai penghasilan lain-lain! Bener lho, banyak auditee saya yang memasukkan nilai pembulatan ini sebagai penghasilan lain-lain. Nilainya kadang bisa luar biasa, dan gak pakai VAT.

Sepengetahuan saya, baru satu supermarket yang menerapkan strategi ini, yaitu melakukan pembulatan ke atas dari nilai pembelanjaan konsumen sampai dengan ratusan rupiah terdekat, namun hasil pembulatan tersebut tidak di jadikan penghasilan lain-lain melainkan menjadi infaq dari konsumen yang dikelola oleh perusahaan dan disalurkan kepada badan pengelola infaq yang reliable.

Supermarket yang lain, ada yang lebih senang dengan melakukan pembulatan ke bawah, dan lebih senang mengakui bahwa nilai pembulatan itu adalah saving dari konsumen. Tapi kebanyakan supermarket adalah membiarkan nilai pembelanjaan konsumen dalam pecahan uang yang sangat sulit untuk dibayar pas. Dan apabila terdapat kelebihan pembayaran, akan disodori permen, sedangkan apabila kurang, akan di tagih dengan mimik muka cashier yang mendelik menakutkan.

Saya sebagai konsumen, sangat menghargai usaha supermarket yang “memaksa” saya untuk berinfak tersebut. Namun meskipun saya dipaksa, saya sangat senang melakukannya dan pulang dengan hati yang sangat ikhlas. Apalagi setiap saya berbelanja ke sana, di pintu keluar terdapat papan pengumuman yang menjelaskan nilai uang infaq yang dikumpulkan oleh supermarket tersebut dan surat dari badan amal infaq shadakah yang reliable tadi mengenai penerimaan uang infaq dan penyalurannya. Hati ini seakan sejuk dan percaya sepenuh hati bahwa uang tadi memang akan berguna bagi yang membutuhkannya, dan bukan berguna bagi pengusaha supermarket.

Memang tanpa ada usaha pelaporan yang kredibel, strategi ini tidak akan laku dan bahkan akan menjadi olok-olokan semata. Dan ternyata dari pengamatan saya, semakin lama nilai infaq yang berhasil dikumpulkan dan disalurkan oleh supermarket itu semakin besar. Saya tidak mengetahui nilai peredaran usaha supermarket itu (wong bukan WP saya), tapi dari gambaran nilai infaq yang semakin besar, tentunya nilai peredaran usahanya juga semakin besar. Karena nilai infaq itu adalah dari setiap transaksi di cashier dan nilainya paling tinggi 99 rupiah. Semoga nilai peredaran usaha yang semakin besar itu sebagian memang dikarenakan konsumennya yang suka dan loyal berbelanja di sana karena selain harganya mudarh, juga bisa ikut berinfaq.

Ayah Rulli

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: