jump to navigation

Tax Rate, Compliance and Laffer Curve November 4, 2008

Posted by maskokilima in Sekolah, Tax.
Tags: , , , , , , , ,
trackback

250px-laffer-curve_svgUndang-undang PPh yang baru diundangkan bulan lalu dipandang sebagai bentuk keberhasilan dunia usaha untuk menekan tarif pajak. Sebagaimana kita ketahui tarif pajak untuk corporate income tax dalam UU ini menjadi 28% dari sebelumnya progesif 10%-30%, untuk personal income tax memang tidak terdapat perubahan tarif tapi tetap diuntungkan dengan perubahan lapisan penghasilan kena pajak. Di sisi lain pemerintah justru dalam RAPBN 2009 menargetkan penerimaan pajak yang lebih tinggi daripada tahun 2008, dan DPRpun mengamininya. Data rencana penerimaan pajak dalam APBN tahun 2009 dapat dilihat di sini. Pertanyaan yang muncul adalah darimana datangnya angak-angka tersebut, sedangkan dalam UU PPh terdapat penurunan tarif, dalam UU KUP terdapat sunset policy dan dalam draft PPN-pun banyak fasilitas yang akan diberikan. Bahkan DJP sendiri seperti kurang PD dan dari awal menyatakan bahwa tahun 2009 potential lost penerimaan pajak adalah sebesar 47 Trilyun rupiah, (berita ada di sini).

Pembahasan tulisan kali ini, mencoba mengeluarkan faktor resesi dunia global yang terjadi sekarang ini. Hal ini adalah untuk melokalisir faktor externalitis agar tidak menjadi pengganggu, karena resesi global ini merupakan hal yang tidak wajar serta tidak diketahui kapan berakhirnya, sehingga dikelompokkan sebagai faktor eksternalitis.

Untuk dapat menjawab pertanyaan di atas, kita perlu membahas Laffer Curve terlebih dahulu. Mungkin anda semua sudah sangat familiar dengan Laffer Curve yang populerkan oleh Arthur Laffer pada tahun 1980an. Meskipun ide dasar dari Kurva Laffer ini sudah dikemukakan oleh John Maynard Keynes dalam bukunya General Theory of Employment, Interest, and Money pada tahun 1970an. Pun di abad ke 14 telah diungkapkan oleh Ibnu Khaldun. Bagi yang ingin mengetahui lebih jelas dari kurva laffer ini silakan klik di sini.

Meskipun Kurva Laffer ini masih menjadi perdebatan sengit diantara para ekonom, namun basic idea-nya sangat masuk akal. Kurva ini sangat mudah dipahami dalam dua titik ekstrim. Pada titik ekstrim tingkat rate pajak 0% pendapatan pemerintah dari pajak akan nihil, dan pada titik ekstrim kedua yaitu tingkat rate pajak 100%, maka pendapatan pemerintah juga akan mendekati nihil, karena warganegara tidak akan mau membayar pajak entah dengan tidak bekerja atau tetap bekerja namun menemukan cara lain untuk menghindari pajak baik halal atau haram. Tarif pajak yang optimum dari segi penerimaan negara berada si tengah-tengah rate 0% dan 100%, berapa persisnya? Sampai saat ini saya belum menemukan model yang sanggup menentukannya. Kalau ada kasih tahu ya?😉

Dengan mempelajari kurva laffer, kita mengetahui, bahwa pada suatu titik, peningkatan rate pajak justru akan mengurangi penerimaan negara dari pajak. Lalu apakah berarti sebaliknya, jika kita kurangi rate pajak pasti akan menambah penerimaan negara?

Suatu studi yang difasilitasi oleh IMF awal tahun 2008 yang mendasarkan pada data empiris yang terdapat pada Russia, menyatakan bahwa penurunan rate pajak mengakibatkan pengurangan terhadap jumlah pelaku penggelapan pajak (tax evaders), sebaliknya kenaikan rate pajak akan membuat semakin banyak honest-taxpayers yang menjadi tax evaders. Sehingga menurut studi ini, perubahan rate pajak, sangat berpengaruh terhadap perilaku taxpayers apakah comply terhadap aturan pajak (honest) atau tidak (evades). Studi ini juga menunjukkan bukti bahwa, perubahan jangka waktu audit juga memberikan efek yang sama seperti penurunan/kenaikan rate pajak. Hal ini bisa menjadikan trade off bagi pengambil keputusan, antara memperbaiki pengawasan dan penegakkan aturan pajak atau mengurangi rate pajak. Pertanyaan yang belum terjawab adalah apakah penurunan rate pajak dapat meningkatkan penerimaan pajak bagi negara? Ternyata menurut working paper IMF ini, penurunan tarif pajak akan meningkatkan kepatuhan wajib pajak sehingga penerimaan pajak akan meningkat karenanya. Efek Laffer ternyata berasal dari meningkatnya kepatuhan wajib pajak dan bukan karena respon dari labor supply.

Model yang diajukan oleh studi ini sangat berguna bagi untuk menentukan kapan kepatuhan wajib pajak berdasarkan Laffer efek dapat terjadi. Kapan penurunan tarif pajak akan meningkatkan penerimaan pajak bahkan dalam jangka pendek. Yang perlu diperhatikan adalah seberapa kuat otoritas pajak negara yang bersangkutan. Jika otoritas pajaknya kuat, maka penurunan tarif tidaklah mempengaruhi kepatuhan wajib pajak, karena tindakan audit yang akan meyakinkan apakah wajib pajak itu patuh atau tidak. Jika otoritas pajaknya lemah, maka perubahan tarif pajak akan mempengaruhi kepatuhan wajib pajak. Sedangkan jika otoritas pajaknya setengah kuat, tarif pajak mempunyai peran yang sangat penting. Mungkin hal inilah yang menyebabkan OECD dalam laporannya di tahun 2001 menyatakan bahwa kebijakan penurunan tarif pajak di negara anggotanya tidak dapat meningkatkan kinerja penerimaan pajak negara tersebut dan hanya merupakan kebijakan yang bersifat politis. Tulisan yang terkait dengan laporan OECD itu bisa dilihat disini.

Kembali ke Indonesia, semoga bahan diskusi ini dapat menjadi bahan amunisi untuk bekerja giat mencapai target penerimaan yang telah ditetapkan. Bahwa selain kebijakan perubahan tarif, terdapat kebijakan tax enforcement lain yang dapat meningkatkan kepatuhan wajib pajak.

Ayah Rulli
Tulisan ini merupakan pendapat pribadi

 

Comments»

1. dwides - November 5, 2008

wah..terlalu berat buat gw yg masih saja berkutat diseputar koreksi fiskal😦

2. maskokilima - November 5, 2008

halah!
merendahkan diri ninggiin mutu nih dwides

kapan makan-makan?
nasi pindang semarang?

3. Bill - November 5, 2008

Tulisan Mas Marulli lumayan menginspirasi…., mudah2an bisa dipakai buat bahan wawancara…. (you know what i mean….)

4. maskokilima - November 5, 2008

Waduh aku tadi berpikir ini Bill Clinton opo Bill yang mana?
Asal jangan Bill yhang di film Kill Bill aja deh…

Buat Bill, lumayan menginspirasi yo..?
alhamdulillah, ini cuman ngetik gak karuan…

5. Pajaktaxes - November 6, 2008

cuman ngetik gak karuan?
RRRRUUAARRR biasa mas Rully ini

6. maskokilima - November 6, 2008

bener mas….
sebenernya cuman lagi stress ama JT

piye kang?
kok ora melu ngajar DFD?

7. ekoindro - November 7, 2008

hehehe…. kowe kok sakiki pinter to syeh..?

>>hus…!!
>>emang ndisik aku debil opo?
>>hehehehehehe

8. ekoindro - November 7, 2008

Syeh, mbok aku diajari cara memeriksa perusahaan yang ada transaksi diduga transfer pricingnya. Soalnya ada eksportir yang induknya di jepang ngimpor bahan baku ma bahan pembantu dari sana, trus ekspornya juga ke induknya juga. Abis itu ada biaya claim oleh induknya atas ekpor bkpnya juga. Tulung inyong diajari nganti pinter ya.. Jazakallah khoirol jaza’. Amin.

9. skmulia - November 12, 2008

salam kenal, ajarin nulis dunk pak.
btw, jl maskoki di daerah mana sih?
pengen kenalan bener… mampir or email yo pak.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: