jump to navigation

Tourist Refund Scheme January 7, 2011

Posted by maskokilima in Sekolah, Tax.
Tags: , , , , ,
trackback

Teman-teman yang baik, sejak bulan April 2010 Indonesia telah menerapkan Tourist Refund Scheme (TRS) untuk pajak atas barang (PPN) yang dibeli di Indonesia namun akan dibawa pulang kembali ke negara asal turis tersebut.

Ketentuan yang mendasari TRS ini terdapat di Pasal 16E Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009, sedangkan peraturan pelaksanaannya di atur di Peraturan Menteri Keuangan Nomor 76/PMK.03/2010 tanggal 31 Maret 2010, Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-20/PJ/2010 tanggal 31 Maret 2010 serta Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-47/PJ/2010 tanggal 31 Maret 2010.

Tulisan ini bermaksud membandingkan program TRS yang dipakai di Indonesia dengan program TRS di Australia dan Singapura. Untuk negara lain, penulis berharap ada teman-teman lain yang bersedia sharing.

Di Indonesia, TRS hanya berlaku bagi turis yang memegang paspor luar negeri dan tidak berlaku bagi WNI pemegang paspor Indonesia yang menjadi permanent resident di negara lain meskipun WNI tersebut bukan lagi subjek pajak Indonesia. Bahkan untuk turist asing pun, berlaku batasan tinggal di Indonesia maksimal 2 bulan, sehingga untuk turis yang tinggal lebih dari 2 bulan di Indonesia tidak mendapatkan fasilitas TRS ini.

Selain batasan siapa yang berhak mendapatkan fasilitas TRS di atas. Indonesia juga membatasi periode pembelian BKP dalam jangka waktu 1 bulan sebelum keberangkatan kembali ke luar negeri. Selain itu pembelian harus dilakukan di toko-toko tertentu. Toko-toko ini ditetapkan dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-184/PJ/2010 tanggal 29 Maret 2010, yang terdiri dari:

  • Pasaraya, di Blok M, Jakarta
  • Sarinah, di Jl. M.H. Thamrin, Jakarta
  • Metro, di Pondok Indah Mal, Jakarta
  • Metro, di Plaza Senayan, Jakarta
  • Keris Gallery, di Terminal 2D Bandara Soekarno Hatta, Tangerang
  • Batik Keris, di Discovery Shopping Mall, Bali
  • UC Silver, di Batubulan, Gianyar, Bali
  • Mayang Bali, di Kuta Square Blok A No. 12, Bali

kenapa hanya ada di Jakarta dan Bali, karena ternyata fasilitas TRS hanya berlaku di bandara internasional di Jakarta dan Bali.

Per 1 Januari 2011, DJP menetapkan Bandara Udara Adisucipto Jogjakarta sebagai bandara yang melayani TRS dan menetapkan tambahan 10 toko yang berlokasi di Jogjakarta sebagai toko reteiler yang berpartisipasi dalam TRS ini sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 427/KMK.03/2010 yang berlaku efektif mulai tanggal 1 Januari 2011.

Selain hal di atas, terdapat batasan lain dalam fasilitas TRS yaitu pembelian minimal 5 juta rupiah per toko pada tanggal yang sama dalam satu faktur pajak khusus. Sehingga minimal PPN yang dapat dikemablikan adalah Rp. 500.000. Di konter pembayaran di tiga bandara tersebut pembayaran pengembalian Rp. 500.000 sampai Rp. 5.000.000 akan dilayani secara tunai dengan melampirkan fotocopy paspor dan boarding pass serta memperlihatkan barang yang akan di bawa untuk diperiksa dan menyerahkan faktur pajak khusus kepada petugas di bandara. Sedangkan untuk jumlah di atas 5 juta rupiah akan di kreditkan ke rekening turis yang bersangkutan dalam mata uang rupiah. Selisih kurs dan biaya transfer ke rekening bank milik turis menjadi tanggung jawab turis yang meminta TRS.

Hal ini berbeda dengan turis yang mendapatkan fasilitas TRS di Singapura ataupun di Australia. Di Singapura batasannya adalah tidak tinggal di negara itu lebih dari 365 hari dalam kurun waktu 24 bulan sebelum meminta fasilitas TRS. Bahkan di Australia, permanen resident Australia pun berhak mendapatkan fasilitas TRS. Hal ini tentunya lebih menguntungkan karena turist atau pendatang bisa lama tinggal di Negara tersebut dan membelanjakan uangnya sesuai dnegan lama tinggalnya.

Di Singapura, TRS hanya berlaku untuk barang yang dibawa keluar melalui bandara Changi atau Seletar dalam jangka waktu 2 bulan setelah tanggal pembelian barang. Hal ini wajar mengingat Singapura adalah negara kecil dnegan jumlah bandara yang terbatas dan Seaportnya lebih banyak untuk arus barang bukan wisatawan. Batasan nilai pembelian adalah SING$ 100 per toko pada hari yang sama. Namun turis tidak berkewajiban untuk meminta satu faktur. Turis dapat menggabungkan maksimal 3 struk pembelian pada satu toko pada hari yang sama untuk mencapai total nilai SING$100 tersebut. Jenis toko yang melayani TRS pun terbatas hanya pada toko yang berpartisipasi pada program TRS ini saja. Di Singapura, turis yang meminta TRS dapat memilih pengembalian GST-nya dalam bentuk tunai, pembayaran ke kartu kreditnya atau transfer ke rekening banknya. Turis juga dapat meminta pengembalian dalam bentuk cek yang akan dikirim ke alamat turis ybs.

Di Australia, batanasan pembelian adalah AUD$300 (inclusive tax) per satu toko. Turis mendapat keleluasaan untuk tidak membeli dalam satu hari karena pihak Custom Australia memperblehkan turis untuk menggabung struk pembelian selama satu bulan sehingga batasan AUD$300 terlewati namun si turis wajib meminta toko tempat membeli untuk menggabungkan seluruh struk tersebut dalam satu lembar tax invoice. Seluruh toko yang mengeluarkan tax invoice berpartisipasi dalam program TRS ini. Perbedaan tx invoice dengan struk biasa adalah di tax invoice jelas menyatakan TAX INVOICE dan mencantumkan BSB toko tersebut serta mencantumkan nilai GST yang dipungut.

Barang yang mendapat fasilitas TRS ini dapat dikeluarkan dari AUstralia melalui terminal internasional di Bandara ataupun Pelabuhan di seluruh Australia. Periode pembelian barang paling lama dalah 1 bulan sebelum keberangkatan ke LN. Turis dapat memilih metode pengembalian yang meliputi Cek yang dikirimkan oleh AusCustom dalam jangka waktu paling lama 15 hari sejak refund atau pembayaran ke kartu kredit atau transfer ke rekening bank di AUstralia yang keduanya akan dilakukan oleh AusCustom paling lama 5 hari setelah refund.

Dengan adanya TRS ini, Indonesia telah mensejajarkan dirinya dengan negara-negara lain di dunia ini untuk menerapkan asas neutrality dari konsep consumption tax. Dengan program TRS ini, diharapkan makin banyak wisatawan yang akan datang ke Indonesia. Namun Indonesia masih perlu belajar kepada negara lain dalam program TRS ini. Berbelanja senilai 5 juta sehari dalam satu faktur pajak mungkin bisa diubah dengan memperbolehkan turis meminta faktur pajak gabungan dari beberapa struk belanja dalam rentang satu bulan kepada toko yang sama sehingga memudahkan turis. Dengan cara ini turis backpaker juga mendapatkan keuntungan.

Pengembalian PPN dengan cara mengkredit rekening turis di Indonesia atau mengkredit rekening kartu kreditnya bisa jadi salah satu cara agar turis itu kembali lagi datang ke Indonesia dan tentu saja membelanjakan uangnya di sini. Tahun 2008, Australia pernah menerapkan mengembalikan GST dan WET(pajak atas wine dan minuman alkohol lain) dengan menggunakan voucher belanja langsung di konter TRS sehingga degan voucher itu turis yang datang di Australia ‘dipaksa’ untuk berbelanja lagi ke Australia bisa lain waktu bisa juga langsung saat itu di toko-toko yang hadir di bandara.

Cheers

Comments»

1. Maskokilima - January 10, 2011

Matur nuwun pak Raden…😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: